Strategi Menanggapi Perubahan Iklim

Admin January 10th, 2020 0 comments Artikel


Awal tahun 2020, menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan bagi sebagian orang yang terdampak banjir. Intensitas curah hujan yang tinggi berlangsung selama 4 hari. saluran pembuangan air yang buruk,menumpuknya sampah diberbagai wilayah serta berkurangnya daerah resapan air menjadi salah satu penyebab yang memperparah kondisi banjir diawal tahun ini.

Menurut BMKG, fenomena perubahan iklim berdampak pada intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem yang lebih tinggi dan lebih cepat terjadi. Nahas, laju perubahan iklim lebih cepat terjadi dibandingkan upaya manusia untuk mengendalikannya. Kenaikan suhu global sebesar 2 derajat Celcius berdampak pada mencairnya lapisan es di kutub, kenaikan permukaan air laut, gelombang panas, cuaca yang ekstrem dan sulit di prediksi, kerusakan ekosistem, krisis air bersih dan wabah penyakit.

Lalu bagaimana cara kita merespon perubahan iklim, Apa cukup dengan tidak membuang sampah sembarangan dan mengurangi penggunaan plastik? untuk menciptakan kestabilan iklim secara global, tindakan kecil tersebut tidaklah cukup dan perlu adanya upaya yang lebih serius. Harus ada kerjasama dan keterkaitan satu sama lain antara berbagai belah pihak pada sektor besar, industri dan kebijakan pemerintah.

Menurut Organisasi Lingkungan Global Greenpeace ada 7 kunci menuju keberlanjutan (sustainable) :

1. Energi, sudah saatnya beralih dari bahan bakar fosil menuju energi yang terbarukan dan lebih ramah lingkungan.

2. Pembiayaan Energi, kerjasama dari berbagai negara dalam membantu negera-negara miskin beradaptasi dengan perubahan iklim. Proyek efisiensi energi di negara berkembang dapat mengurangi emisi gas berlebih.

3. Hutan dan Penggunaan Lahan, melindungi dan memulihkan ekosistem hutan tropis dengan mengurangi deforestasi (penebangan hutan) secara global, meningkatkan ketahanan pangan, membuka mata pencaharian dan menolong ekonomi pedesaan.

4. Transportasi, menerapkan standar efisiensi kendaraan dan pembiayaan moda transportasi tanpa emisi. Pengurangan emisi yang signifikan dapat dicapai dengan kebijakan dan insentif yang tepat.

5. Pembangunan Gedung dan Kota, sekitar 70% penggunaan energi, bangunan dan konstruksi menyumbang 39% emisi karbon dioksida. Perlu adanya solusi cerdas untuk menangani pengelolaan limbah industri dan rumah tangga.

6. Pertanian dan Makanan, transformasi pangan global dalam 12 tahun kedepan dengan mengurangi limbah makanan, konsumsi sumber makanan lokal serta menerapkan pola hidup sehat.

7. Pendidikan, edukasi dan intervensi secara umum guna meningkatkan kesadaran dan respon dalam menyikapi perubahan iklim yang terus terjadi.

Perubahan iklim akan terus terjadi,jika tidak melakukan suatu perubahan yang kecil dampaknya kian terasa dan menimbulkan banyak kerugian serta bencana yang mengancam keberlangsungan makhluk hidup dan lingkungan. Sudah siapkah kita untuk berubah atau pilihan terburuknya adalah bumi kita yang akan berubah.

Foto Oleh : Ahmad Tri Hawaari
Teks Oleh : Rury Rufica

Leave a Reply