Ruang Publik Terbuka Ramah Anak Di Jakarta Terancam Bahaya Timbal

Admin November 29th, 2019 0 comments Artikel

Tantangan dan isu kritis yang harus dihadapi Provinsi DKI Jakarta salah satunya adalah pemenuhan hak-hak anak. Dalam hukum internasional, terdapat kurang lebih 31 hak anak yang harus terpenuhi dan menjadi urusan wajib bagi negara. Pemerintah telah mengadakan salah satu upaya yang disebut KLA (Kota Layak Anak) guna memenuhi hak-hak anak di setiap Kota/Kabupaten. Kota Layak Anak masuk kedalam program Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi DKI Jakarta 2013-2017 Berdasarkan keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 56 Tahun 2010 tentang penunjukan dan penetapan 10 Provinsi Kota Layak Anak.

Pada Tahun 2015 Pemprov DKI Jakarta memulai pembangunan Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) yang menargetkan setiap kelurahan harus memiliki RPTRA. Tahun 2018 jumlah RPTRA mencapai 290 dari 267 kelurahan yang ada di Jakarta. Hal tersebut sudah melampaui target awal pengadaan RPTRA di setiap kelurahan. Di tahun 2019 ini Pemprov DKI Jakarta berencana menambah 16 RPTRA yang menghabiskan Anggaran kurang lebih 40 miliar.

Sayangnya, banyaknya jumlah RPTRA di Jakarta tidak di imbangi dengan tingkat keamanan yang ditinjau dari beberapa aspek. Pada tanggal 22-28 Oktober 2019 Yayasan Nexus3  sebuah organisasi nonprofit yang bergerak di bidang kesehatan dan pembangunan lingkungan mengadakan riset internasional dengan menguji kandungan cat pada beragam alat dan sarana bermain anak di 32 taman wilayah Jakarta menggunakan alat analisis X-Ray Fluorescence (XRF). Hasilnya 69 persen peralatan bermain anak yang diperiksa mengandung konsentrasi timbal mencapai 4.000 ppm. Hal tersebut sangat jauh melebihi batas yang ditetapkan sebesar 90 ppm. Kandungan timbal terbanyak ditemukan pada sarana bermain anak dengan cat berwarna kuning mencolok.

Timbal sendiri merupakan unsur logam berat yang salah satunya menjadi komponen pembuatan cat untuk menambah warna cat agar terlihat lebih terang. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan terhadap paparan timbal karena menyerap hampir 50 persen racun timbal  yang terdapat pada warna-warni cat yang mencolok. Bahaya timbal tidak bisa disepelekan begitu saja, faktanya beragam komplikasi keracunan timbal pada anak meliputi Anemia, kejang, kerusakan otak, ginjal dan sistem saraf serta gangguan pendengaran.

Terkait kasus timbal yang ada di RPTRA, Pemprov DKI Jakarta masih terus meninjau dan berjanji akan segera menindak lanjuti kasus tersebut. Sementara itu, di Indonesia belum terdapat aturan spesifik yang mengatur penggunaan timbal dalam cat. Dalam SNI ISO 8124-3:2010 (Standar keamanan mainan anak) hanya membatasi kandungan timbal pada mainan anak dengan aturan harus di bawah 90 ppm yang berlaku sejak 12 Oktober 2013.

Bagaimanapun juga kasus bahaya timbal sangat merugikan negara dalam inteligensi anak bangsa kedepannya. Pemerintah harus segela mengambil tindakan serius dan menetapkan aturan-aturan resmi terkait penggunaan timbal di Indonesia.

Teks Oleh / I-FOTOGRAFI / Rury Rufica. A

Leave a Reply