Pameran Foto Personal Project Angkatan XIV (2018) – RETURN

Admin April 20th, 2019 0 comments Pameran

 

 

 

PRAKATA

 

 

 

Berikut adalah Foto Cerita dari Pameran “RETURN”

 

Kampung Bekelir

 

Foto dan Teks: Nurus Shobah Akmaliyah

Kampung ini dulu bernama Kampung Babakan. Warga kampung lalu ubah citranya menjadi lebih baik lagi. Pemuda-pemudi semua warga bekerja sama dan bergotong royong membersihkan kampung. Hingga bertepatan dengan lomba 17-an warga kampung ini patungan mengecat jalan.

Tak disangka, respons pemerintah saat ini positif, mereka mau mesponsori dan berikan kucing untuk menyediakan pewarnaan kampung ini. Pengecatan dan pelukisan kampung hanya membutuhkan waktu empat bulan. Diharapkan dari 30 Juli 2017, komunitas dari seluruh Indonesia yang berasal dari 120 pelukis dari Bali, Jogja, Bandung, Jakarta, dan Depok. Berada di kelurahan Babakan, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang. Ada empat RT dan satu RW yang terdiri dari 300 rumah terkenal kumuh dan kotor.

Walikota Tangerang meresmikan Kampung Bekelir pada 19 September 2017. Sebelum diresmikan, kampung ini pernah mendapat penghargaan dari Pemerintah Kota Tangerang. Sukses mendapat juara ke-1 dari Lomba PHBS (Hidup Sehat dan Sehat), yang diterima oleh sembilan peserta se-Kota Tangerang.

Rencananya kampung ini akan menjadi destinasi wisata lokal. Untuk memuaskan pengunjung, akan dibuat menara untuk melihat kampung dari atas. Akan ada flying fox juga, yang saat ini sudah mulai dikerjakan pembangunannya. Dipinggir kali juga akan ada perahu untuk berkeliling Sungai Cisadane. Kuliner ditepian sungai juga sudah dibuat oleh warga kampung sini sendiri yang berdagang, dibuka mulai dari sakit sampai malam hari.

Saat ini Kampung Bekelir memang satu-satunya kampung warna-warni yang ada di Kota Tangerang. Kampung Disekitar ini juga membahas taman-taman yang dialihkan. Seperti Taman Potret, Taman Gajah dan Taman Burung. Lengkap sudah wisata yang ada di Kelurahan Babakan ini.

ANTITESIS TANAH ABANG

 

Foto dan Teks: Dyah Putri Ayu

Beda dulu dan sekarang, Pedagang Kaki Lima (PKL) di Tanah Abang sekarang. Hal ini karena Pemprov DKI Jakarta memiliki kebijakan baru untuk wilayah Tanah Abang. Konsep penataan Tanah Abang dibuat untuk mengakomodir pejalan kaki dan pedagang. Selain itu, Pemerintah menyediakan bus “Tanah Abang Eksplore” yang menyediakan pembeli untuk membeli satu blok dengan biaya tambahan tanpa biaya.

“Karena ada penataan ini sih enak mba, kita ga perlu kucing-kucingan sama Satpol PP kaya dulu”, ujar Bukhari (62), salah satu penjual kaca mata di Tanah Abang.

Penataan ini bermanfaat bagi para pedagang yang diberikan lapak oleh Pemprov DKI Jakarta, karena mereka tidak perlu kejar-kejaran dengan Satpol PP. Selain itu, dengan PKL yang diberikan lapak oleh Pemprov DKI Jakarta, para pedagang resmi kios di Blok G benar-benar kecewa atas kebijakan ini, karena, kebijakan kios tersebut di Blok G semakin sepi dan sulit diaksesnya.

“Akibat penataan ini, saya merasa dirugikan karena omset menurun drastis tidak seperti sebelum kebijakan ini berjalan mba”, ujar Alan (25), salah satu pedagang minuman di Tanah Abang.

Karena penataan ini, banyak pedagang yang dirugikan di antara yang lain, pedagang yang memiliki ruko yang bertempat dibelakang tenda dan angkot-angkot yang dulunya melintasi jalan tersebut. Tidak semua PKL mendapat tenda untuk berjualan, karena ada persyaratan yang harus disetujui untuk mendapatkan jatah tenda tersebut.

Penataan tersebut, diharapkan menjadi solusi baru bagi PKL dalam kesemrawutan dan pembenahan di Jalan Kali Baru. Bagi pemerintah juga harus memperhatikan pedagang di blok lain, untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

SUARA HATI PARA PENGHUNI

 

Foto dan Teks: Nawang Wulan Eka Putri

Terbatasnya lahan dan harga mahalnya, ditambah urbanisasi membuat Ibukota semakin padat. Menjawab Tantangan tersebut, mau tak mau pemerintah membangun rumah susun.

Rusun Penjaringan, Blok H salah satunya. Rusun yang tersembuyi di Jalan Tanah Pasir, Penjaringan ini terletak di antara pemukiman penduduk, ditengah gedung pencakar langit.

Rusun padat ini, terdiri dari empat lantai dengan 30 kepala keluarga disetiap lantainya. Tiap rumah tinggal sekitar 18m² ditempati empati hingga enam orang ini harus penuh jemuran, kabel semrawut disekelilingnya, dan fisik rumah susun yang tidak terawat membuat anak-anak bisa bermain, berjalan-lari dari lantai ke lantai. Meski terlihat ramai, hal ini tidak menantang semangat anak-anak untuk pergi sekolah dan mengaji ke masjid setiap hari sakit.

Sebagian warga berharap Rusun Penjaringan segera direvitalisasi, asal harga sewa tetap murah yaitu, Rp50.000, – setiap bulannya. “Ya lumayan lah untuk harga sewa yang murah, yang penting air dan listrik cukup. Ada sih, dengar kabarnya akan direvitalisasi tahun 2020 nanti, tapi belum pasti kabar burung saja. Ya bagus jika direvitalisasi tetapi tetap agar harga sewa tidak terlalu tinggi. ”Kata Suyoto (45), warga lokal.

Sebagian penghuni rusun berharap, agar pemerintah dapat membangun hunian yang lebih layak, namun tetap terjangkau harga sewanya.

 

NYARIS, TAK LAGI TERAPUNG

 

Foto dan Teks: Ahmad Tri Hawaari

Kampung Apung, bukti nyata Jakarta mulai dipasang lambat laun. Mulai tahun 2000-an, kawasan dengan luas 6 Ha terpendam hingga ketinggian kurang dari 2 meter dan kian bertambah setiap tahunnya. Padahal pemukiman yang dihuni 400 kepala keluarga itu, dulunya hijau. Tercatat, ada 3000-an makam sebelum kampung di Kapuk Muara ini terapung.

“Dulu tuh hijau kaya di Kalimantan, aksesnya dari jembatan kayu.” Ujar Ji’iI (30), warga Kampung Apung.

Bak sudah jatuh tertimpa tangga, Kampung Apung juga terancam digusur karena akan diterbangkan proyek pembangunan Jalan Panjang Raya yang menghubungkan wilayah Lebak Bulus hingga Bandara Soekarno-Hatta. Jalur ini, dipindahkan menjadi alternatif untuk mempersingkat waktu tempuh dan mengurangi kemacetan. Karena itu, Pemerintah Walikota Jakarta Barat tidak dapat menyanggupi permintaan warga untuk membuat Taman Percakapan Rusunawa di Kawasan ini, jika permintaan telah berhasil di uruk, (dilansir dari Kompas.com).

Sri Lestari (43), Ketua RT 10 Kampung Apung mengatakan, bahwa isu Kampung Apung digusur sudah ada isu berita tersebut, bahkan dari Ketua RT sebelumnya, isu ini marak di perbincangkan. Namun, hingga kini belum ada pemberitaan dari pemerintah dalam penggusuran tersebut.

Warga berharap, pemerintah memberikan perhatian untuk mengelola dan melakukan renovasi untuk kehidupan yang lebih layak, dan warga berharap mendapat relokasi yang layak jika penggusuran benar-benar diperlukan.

Saat ini, Kampung Apung menjadi tempat perisitirahatan dan tempat berteduh para warga RT 10, Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Di mana saja, semua selamat dari semua senang tinggal di sana. Apa yang terjadi jika kampung yang dicinta-Nya tenggelam, terlarut tergusur oleh keras dan padatnya Jakarta.

 

POWER RANGER ALA JAKARTA

 

Foto dan Teks: Irma Sani

Keamanan, kesenangan, serta Lingkungan yang bersih dan indah merupakan impian warga Jakarta. Dalam mewujudkan impian itu, Pemerintah DKI Jakarta melakukan terobosan baru dengan menghadirkan petugas warna-warni yang juga bisa disebut, “Power Ranger Jakarta”. Ada biru, kuning, oranye, hijau dan hitam layaknya Power Ranger. Setiap warna memiliki karakter dan kekuatan berbeda dalam mempertahankan kotanya.

Ranger Kuning, Petugas Bina Marga berseragam kuning dan menggunakan sepatu boot, memakai memulihkan dan memperindah trotoar. Tak hanya itu mengatasi juga mengatasi jalan yang berlubang juga merawat jembatan penyeberangan.

Tak peduli bau menyengat dan kotor saat membersihkan gorong-gorong dari sampah sampai lumpur. Semua dilakukan demi mencegah dilakukan genangan. Mereka adalah Ranger Biru dari Suku Dinas Sumber Daya Air.

Sering kali berada di jalan DKI Jakarta, tanpa teriknya, matahari, bahkan hujan, tetap dilalui. Ranger Oranye bernama PPSU berusaha menyelamatkan sampah dijalanan. Prasarana umum pun dijaga oleh mereka.

Sementara itu, tugas mereka di bagi dua. Pertama, menangani penghijauan kota. Kedua, merawat pemakaman hingga mengali lubang kuburan.

Pernahkah Anda Berpikir siapa yang berhasil membuat jenazah yang terlantar? Ranger Hitam-lah orangnya. Ia biasa disebut dengan palang hitam. Bertanggung jawab atas jenazah yang terlantarkan di Ibukota. Ranger hitam yang dirancang hingga ke tempat peristirahatan terakhir.

Power Ranger ala Jakarta ini telah membantu warga. Namun, jangan lupa, sebagai warga DKI Jakarta juga harus memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang sama dalam persetujuan dan pemeliharaan Jakarta agar lebih bersih dan indah.

 

 

 

JURU PENYELAMAT PATAH TULANG

 

Foto dan Teks: Aldi Kurnia Saputra

Belasan pasien berjejer sejak pagi di Rumah Haji Naim yang terletak di Jalan MPR III No.24, Cipete, Jakarta Selatan. Ya, mereka mengantri untuk mendapatkan pengobatan alternatif patah tulang legendaris, yang menjadi rujukan pengobatan patah tulang sekitar Jakarta sejak tahun 1960-an.

Meski Haji Naim telah meninggal 37 tahun yang lalu, namun, ia telah kehilangan keahliannya hingga 12 ekor. Sampai saat ini, rumah perawatan Haji Naim sudah melayani sekitar 200 pasien / hari. Di rumah perawatan haji juga tersedia ruang inap berkapasitas 20 pasien. Pelayanan meningkat di akhir pekan dan hari libur nasional.

Pijatan Haji Naim punya teknik tersendiri, dengan mengoleskan Minyak Cimande ke bagian tubuh yang sakit atau terkilir. Ramuan yang dibuat dari sari kelapa dan tebu yang dicampur dengan kuning telur digunakan untuk melemaskan otot. Jika pasien tersebut patah tulang, biasanya akan menggunakan bidai patah tulang yang dibuat dari bambu.

“Mengubah kaki saya tidak bisa di tekuk karena mobil tertabrak, jangan berjalan, untuk bergerak pun sakit. Setelah dua kali berobat di sini, alhamdulilah kaki saya membaik dan sudah bisa diperbaiki dengan menggunakan alat bantu”, ungkap Andi (43), salah satu pasien .

Pengobatan alternatif Haji Naim tidak mematok tarif. Pasien yang berobat hanya menyediakan ketidakseimbangan dalam kotak yang tersedia di ruang depan.

Pemilik berharap, layanan urut patah tulang tradisional Haji dapat membantu masyarakat yang tidak mampu, mengatasi masalah patah tulang dan salah urat.

BETAWI PUNYA GAYA

 

Foto dan Teks: M. Agiel Yulianto

Batik Betawi telah mulai banyak dikembangkan di Jakarta, Batik Khas Terogong salah satunya, batik asal Cilandak ini memiliki keunikan dan dapat disetiap motifnya sehingga dapat menghasilkan gambar Mengkudu tua dan simbol Ceremai ini. Menawan) begitu kata Aap (38), selaku pengurus produksi Batik Betawi Terogong.

Batik pembuatan batik ini tidak berbeda dengan batik pada umumnya, hanya batik batik semua ini diawali dengan proses cap. Produksi batik ini dimulai dari mengecap kain putih polos dengan motif yang sesuai, memulai ke proses yang dinamai nembok, nembok adalah proses dimana batik diberikan motif dari canting yang telah diisi dengan lilin panas, dimulai, kain direbus di dalam tungku yang berisikan udara dengan sabun, agar lilin dari hasil proses mengecap dan menembok dapat luntur, baru setelah itu sesuai warna sesuai permintaan konsumen, lalu dijemur.

Menjemur pun, tidak sembarang kain bisa dijemur langsung di bawah sinar matahari. Karena, khawatir akan melunturkan warna pada kain batik, cukup digantung di tempat yang minim cahaya matahari sudah cukup. Setelah itu, kain dapat diangkat dan disiapkan rapi. Kain batik betawi Khas Terogong pun siap dipasarkan.

Sebagai Identitas Indonesia, sudah ada anak yang menggunakan Batik Nasional agar tidak sembarang mengklaim negara lain, kebanyakan negara tetangga yang lebih dulu polemik tentang batik ini.

SERIGALA, MENJADI TULANG PUNGGUNG KELUARGA

 

Foto dan Teks: Suci Wulandari

Dibalik kostumnya, wanita memutuskan baya senang orang-orang ditengah kemacetan. Tangan kanan dan kirinya sangat lihai memperagakan tingkah lucu yang diperankan.

Cani (42), ibu dari empat anak ini bekerja sebagai badut berperawakan Serigala. Dihari Sabtu dan Minggu mulai pukul 10.00-17.00 WIB, ia berlenggok ditengah jalan. Dari usahanya, ia menghasilkan sekitar Rp 30.000 – Rp 80.000 / hari. Kostum yang dipakainya ia beli di toko baju, sedangkan kepala badutnya ia pesan ke salah satu yang bernama Mas Gondrong. Diluar menjadi badut, bu Cani juga menyewakan kostumnya demi menambah pundi-pundi rupiah. Hasil tarifnya dibagi dua, untuk dirinya sendiri dan si penyewa.

Bersama dengan benteng, tetapi Cani sudah lima tahun tinggal di bawah kolong jembatan, tepat di bawah Gerbang Nusantara. Panasnya terik matahari, tidak bisa diterima. “Saya sih lebih memilih untuk jadi badut, dari pada hanya duduk sambil mengemis dijalan”, kata bu Cani.

Meskipun tinggal di jembatan kolong, tetapi Bu Cani dan rumah tangga sudah mendapatkan izin dari RT dan RW lokal dan juga Satpol PP. “Alhamdulillah, selama saya di sini tidak pernah ada orang yang sama dengan saya atau keluarga saya”, sambung bu Cani.

Pekerjaan badut ini mudah. Kostum beratnya, pengap, dan panas sungguh terlihat jelas diraut wajah Bu Cani. Tapi perempuan memutuskan baya itu tidak pernah setuju dan ikhlas melakukan pekerjaannya, karena, mau tak mau ia akan menjadi tulang punggung terkait.

 

SEKOLAH, MENUNTUT ILMU ATAU MENCARI NILAI BAGUS?

Foto dan Teks: Indah Lukmanah

Survei Konsultan Risiko Politik dan Ekonomi (PERC), kutipan, kualitas pendidikan di Indonesia, sesuai urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam.

Dikutip dari CNNIndonesia.com, data yang didukung The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, hanya dapat diakses di 37 negara yang disurvei di dunia.

Mencari ilmu atau nilai? Oke, sudah kita minta sekolah ada tempat formal untuk menuntut ilmu. Menyalak! itu benar, namun muncul muncul pertanyaan segudang.

Apakah seorang anak itu benar-benar menuntut ilmu atau malah mencari nilai? Apakah anak tersebut dapat menyetujui ilmu yang diberikan kepada gurunya? Atau, apakah gurunya dapat diterjemahkan dan dipahami setiap karakter dari babak siswanya?

Seorang anak bersekolah, mulai bagaimana menumbuhkan karakter yang kemudian dilanjutkan ke SMP hingga SMA.

Mengapa kita harus belajar sebagai siswa SMA yang melepaskan dengan segudang teori yang bukan ilmunya tidak di terapkan di dunia nyata? Apakah fungsi sebenarnya sekolah, menuntut ilmu atau terobsesi dengan nilai?

Banyak pandangan dari masyarakat bahwasannya, murid yang mendapat nilai jelek adalah anak yang bodoh. Sementara itu, nilai yang bagus menjadi acuan pintar atau tidaknya anak di mata masyarakat. Karena, ada orang tua yang sangat memaksakan untuk memperoleh nilai yang baik, membandingkan apa yang diperoleh anak tersebut, dan mengubah apa yang ada di dalam diri anak terhadap ilmunya.

Pendidikan menjadi hal yang sangat mendasar bagi seseorang, Pendidikan juga membuat faktor kewibawaan negara di mata dunia. Pendidikan baik, generasi bangsa pun cerdik.

BINTANG

(STARBUCKS KELILING)

 

Foto dan Teks: Fahrullah

Kriiing… .kriiing… kriiingg..kriiinggg…

Kopii … kopiii … kopiii …

Minuman yang diminati kalangan muda hingga tua. Minuman yang sangat nikmat di suasana apa pun yang bisa menemani aktivitas sehari-hari, bahkan di Kawasan Pusat Ibukota tak jarang penjual kopi menjual dengan harga mulai dari Rp3.000 – Rp5.000 sesuai dengan apa yang dibeli.

Tukang Kopi Keliling membawa rentetan bungkus kopi dengan pelepasan di Jalanan Jakarta. Tukang kopi keliling ini memiliki komunitas yang berada di Kwitang, Jakarta Pusat. Diketuai oleh H. Usman (58) dan H. Hasan (60). Meski satu komunitas, takkan membuat mereka berebut pelanggan dan tempat mengais rejeki.

Mereka biasa berjualan di tempat orang ramai berlalu-lalang seperti, Monas, Bundaran HI (Hotel Indonesia), sekitar Halte Bus, di depan Perkantoran, Pusat Perbelanjaan, Taman Menteng, Taman Suropati, dan lain sebagainya. Tukang kopi keliling ini mulai dari sakit hingga pagi untuk memenuhi kebutuhan, dengan menghasilkan Rp 150.000 / hari.

Dengan adanya pedagang kopi keliling, masyarakat menengah ke bawah tetap dapat menikmati minuman kopi dengan harga terjangkau. Disela-sela aktivitas sehari-hari dan dimanapun berada, dengan mineral udara bermodal, udara panas, dan es batu, pedagang kopi melayani pelanggan dengan sepenuh hati.

EKSISTENSI GETEK ERETAN DI SUDUT IBU KOTA

 

Foto dan Teks: Eka Pratiwi

Menelusuri jalan Teluk Intan, ada pemandangan tak biasa, Jakarta yang notabane-nya, sudah menikmati pembangunan, tersembunyi alat sebrang eretan transportasi tradisional tetap menjadi primadona masyarakat yang menggunakan transportasi yang tidak digunakan didaerah ini untuk menjelajahiangi teluk.

Getek eretan, dijaman yang semakin maju, tidak tahan eksistensi salah satu transportasi ini. Dengan tarif yang murah dan praktis menjadi alasan masyarakat tetap mempertahankan pilihannya. Untuk pejalan kaki dikenai tarif sebesar Rp 1.000 sementara untuk gerobak dan roda dua dikenai tarif sebesar Rp 2.000.

Getek yang ada di bawah tol Tanjung Priok mulai pukul 04.00 – 22.00 WIB. Lalu berganti pengemudi untuk mengangkut penggunanya. Titik rami pengguna getek eretan pada jam kerja dan jam anak berangkat dan pulang.

Salah satu pengguna bernama Syarifuddin (38), mengaku lebih memilih menggunakan getek untuk melepaskan kemacetan dari pada memutar Arah untuk sampai kesebrang yang jaraknya jika dari Teluk Intan harus memutar Arah melalui Kapuk yang jaraknya kurang lebih 5,2 km atau sama dengan menggunakan waktu makan selama 18 menit. Tidak dapat dipungkiri karena ada getek yang mudah dan mudah diakses yang harus mengantri berdesakan.

Dengan adanya transportasi ini masyarakat sangat dipermudah aksesnya untuk melewati jalan ini, para warga meminta kepada pemerintah mengenai transportasi yang disediakan untuk menunjang perjalanan di sana.

 

DOKTER KAPAL

 

Foto dan Teks: M. Panji Satria Islam

Tepatnya, di samping Apartemen Green Bay Pluit, Jakarta Utara, barisan kapal ikan terlihat siap untuk diperbaiki. Terdengar pukulan palu bersaut-sautan dengan bunyi bor listrik dan gergaji di bengkel yang disediakan di lapangan itu. Percikan api di sudut-sudut kapal.

Di sisi lain, tanpa alat pengaman memadai para pekerja harian dan karyawan bahu membahu memperbaiki kapal yang rusak. Upah yang mulai pindah Rp 100.000 – Rp 200.000 / kapal. Lebih dari sepuluh pekerja, yang dibagi dalam beberapa tim. Diantaranya, tukang khusus naik kapal, tukang, dan perbaikan.

Berat badan pekerjaan memperbaiki badan kapal, membuat pengelola bengkel iba dan menyediakan waktu istirahat untuk para pekerja setiap tiga atau empat jam sekali. Soal harga perbaikan pun tergantung kerusakan.

Meski pekerjaan ini jauh dari kata layak, belum menjadi tumpuan uang pemilik kapal dan pengelola bengkel. Selain menjadi mata pencaharian warga sekitar, bengkel kapal ini juga sedikit membantu mengurangi masalah pertambahan warga di Muara Angke, Jakarta Utara.

KUNCEN KATULAMPA

 

Foto dan Teks: Lukman Hakim

BENDUNG KATULAMPA | Siapa yang tak kenal bendung yang satu ini? saat musim penghujan tiba, banyak warga Jakarta melihat bantaran kali Ciliwung menghindari kiriman udara dari Bogor, salah satunya melalui Pintu Air Katulampa

Bendung Katulampa Ada di Kelurahan Katulampa, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dibangun pada tanggal 16 April 1911 dan selesai pada Oktober 1912, dengan tujuan lebih awal dari air yang dialihkan ke wilayah Jakarta.

Biasanya, debit udara 20.000 – 40.000 liter / detik. Tapi, saat musim penghujan tiba bisa mencapai 400.000 liter / detik. Kondisi saat ini termasuk saat siaga 1 pada tanggal 5 februari 2018 yang membahas tentang banjir saat kali Ciliwung.

Mungkin, nama Andi Sudirman sangat penting di telinga masyarakat, pria yang menghabiskan hari-hari Pintu Air Katulampa ini menjadi salah satu sumber informasi penting bagi warga Bogor dan Jakarta, sebelum musim penghujan tiba.

Pak Andi berbicara, sebelumnya tidak terpikirkan menjadi petugas Pintu Air Katulampa. Semula, ia hanya seorang atlet bola voli yang bermain untuk Kementrian Pekerjaan Umum. Saat memanggil ia ditawari sebagai penjaga Pintu Air Katulampa.

“30 tahun saya setia meminta pintu air ini, saya sangat ikhlas menjalankan tugas ini, karena sangat menyenangkan bisa membantu banyak orang. Duka saya kompilasi datang musim penghujan bisa 2 hari tidak tidur untuk memperbaiki tinggi muka air yang ada dikatulampa ”, kata Andi (63).

Terlebih raut wajah penuh dedikasi dan tanggung jawab atas tugas yang dijalakannya siap siaga selama 24 jam mengamankan Pintu Air Katulampa. Tanpa mereka, mungkin masyarakat Jakarta tidak tahu bencana yang akan datang mengintai mereka.

PANTAI PISANGAN YANG PERLAHAN HILANG

 

Foto dan Teks: Dimas Naufal Fathin

Kondisi Pantai Pisangan di Desa Cemara Jaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, kini mulai memperihatinkan. Tepian pantainya tenggelam terkikis gelombang ombak laut utara. Sekitar 40 persen garis pantai disepanjang Pesisir utara Karawang mengalamai kerusakan akibat gelombang udara pasang yang terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. Alih fungsi lahan yang dulu merupakan hutan bakau, kini berubah berganti menjadi tempat usaha dan tambak ikan.

Warga berkeluh kesah akan ada abrasi yang terus menerus. Ia khawatir pantai kebanggaan di daerahnya hilang lambat. “Dulu, Pantai Pisangan tuh pantai wisata pertama di Karawang. Tapi saat abrasi mulai terjadi, Pantai Pisangan kehilangan pengunjungnya, warung makan jadi sepi terus bangkrut, karena sudah dirusak pada saat ”, kata Tarunah (70).

Banyak warga Cemara Jaya menunggu di relokasi Pemerintah Kabupaten Karawang. Namun, hingga satu rumah yang hilang, upaya itu kunjung datang. Masyarakat Kembali tinggal menumpang di rumah warga yang jauh dari bibir pantai. Di satu sisi, tak sedikit dari mereka diberikan ijin untuk dibangun kembali di tanah yang posisinya lebih aman. Selain itu, komplek pemakaman pun tak luput diterbitkan oleh ganasnya gelombang udara pasang Laut Utara Jawa tersebut.

“Sudah sering yang dateng kesini (baca: pemerintah), tapi cuma ngasih sembako doang. Mau pindah juga gatau mau kemana lagi, ikut ikut selamat selamat selamat datang kembali ”, sambung Sukni (61).

Kini, penduduk di Pantai Pisangan, Cemara Jaya, hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi. Gempuran gelombang ombak laut utara Jawa yang terus menggerus menghabisi bibir Pantai Pisangan itu dianggap biasa, bukan lagi bencana. Meskipun demikian, bantuan untuk relokasi wilayah itu sangat diharapkan.

MAKAM METROMINI

 

Foto dan Teks: Fajar Alim Muttaqin

Ratusan bangkai kendaraan roda empat teronggok dilahan sepuluh hektar lebih, di Terminal Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat.

Berkarat, pecah kaca, larangan kempis, sampai tumbuh-tumbuh lambat-lambat.

Metromini yang terbengkalai itu merupakan bekas tilangan dan kecelakan lalu lintas, yang lama tak di urus si empunya bus.

“Tidak memiliki KiR, makanya dibiarkan si pemilik di sini. Tidak diurus, jadi bangkai”, kata Yanuar (43), petugas Suku Dinas Perhubungan dan Transportasi sekaligus Kepala Terminal Rawa Buaya.

Tak berarti aman, markas Metro mini rusak itu kerap kali kecolongan. Onderdil dipreteli, ban dan spion di lucuti, besi-besi hilang digotong orang.

Rongsokan bus yang akan menambah kenyamanan di terminal yang rencananya akan dibuat Terminal Tipe A oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Meski begitu, angkutan umum masih banyak dijumpai di jalan aspal Ibukota. Ia rela bersaing dengan transportasi modern dalam kondisi tua.

Lalu sampai kapan pun ia bertahan tanpa “ngos-ngosan”?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply