Kecanduan Social Media Pengaruhi Kondisi Kejiwaan

Admin December 13th, 2019 0 comments Artikel

Kecanduan social media Pengaruhi kondisi kejiwaan

Media sosial sebagai salah satu bentuk kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang memungkinkan informasi bentuk apapun dapat di sebar luaskan dengan mudah dan cepat,sehingga membentuk perilaku seringkali mengecek ponsel miliknya,dan sekedar melihat media sosial dengan frekuensi dan periode yang lama. Jika aktivitas ini, berlangsung menjadi kebiasaan nantinya akan menjadi candu terhadap media sosial.

 Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Child Dan Adolescent Health  menyatakan pengguna media sosial menyebabkan tekanan psikologi yang lebih besar. Studi tersebut melibatkan hampir 10.000 anak usia 13 hingga 16 tahun di Inggris dengan frekuensi 60 persen remaja perempuan dan 12 persen remaja laki – laki mengalami tekanan psikologi akibat media sosial. Sedangkan hasil riset yang dilakukan United Kingdom’s Royal Society of Public Healthpada13 Februari sampai 8 Mei 2017terhadap 1.479 orang dengan rentang usia 14-25 tahun dari berbagai daerah di Inggris Raya. mengatakan jika Instagram paling berpotensi memberikan efek buruk bagi kesehatan mental dan jiwa dibanding media sosial lainnya seperti Twitter, Facebook, Snapchat ataupun YouTube.

Pada tahun 2017 berdasarkan data WeAreSocial.net dan Hootsuite, Indonesia menempati urutan kedua pengguna internet terbanyak didunia dan pada januari 2019 pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Penelitian berjudul A Tool to Help or Harm? Online Sosial Media Use and Adulth Mental Health in Indonesia menyurvei 22.423 orang berusia 20 tahun ke atas di 9987 rumah tangga dan 297 Kabupaten di Indonesia mengenai pengaruh media sosial meliputi Facebook, Twitter dan obrolan menyimpulkan media sosial dapat menyebabkan depresi apabila berlebihan dalam penggunaannya.

Para peneliti di Universitas Chicago menyimpulkan kecanduaan media sosial menduduki peringkat teratas dari pada kecanduan rokok dan alcohol. Kecanduan media sosial dapat mengganggu aspek kehidupan sehari – hari bahkan dapat berdampak pada kondisi kejiwaan seseorang seperti :

  • Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

ADHD pertama kali dikemukakan oleh dokter dari Inggris George F Still tahun 1902 adalah perasaan selalu gelisah, tidak bisa tenang, dan sulit fokus terhadap satu kegiatan karena pikirannya mudah teralihkan. Dengan adanya internet dan sosial media, penderita ADHD akan semakin akut.

  • Voyeurism

Voyeur identik dengan orang yang suka mengintip. Dalam ranah internet dan media sosial, voyeur merujuk pada sikap penasaran berlebihan pada akun orang lain secara berlebihan, bahkan dalam tingkat obsesi

  • Schizoaffective atau Schizotypal Disorder

Penyakit mental yang membuat penderitanya mengalami halusinasi, memiliki pikiran yang membingungkan, depresi, dan gangguan ingatan. Penggunaan media sosial tanpa kontrol akan semakin memperparah gangguan ini, bahkan dapat memicu kecenderungan bunuh diri dan juga dorongan untuk membunuh orang lain.

  • Low Forum Frustration Tolerance

Di gambarkan dengan seseorang yang haus akan pengakuan diri dari pengguna media sosial lainnya, biasanya bersedia melakukan apa saja di media sosial demi sebuah self esteem. penderitanya akan merasa frustrasi dan bisa saja mengalami depresi apabila merasa tidak mendapatkan  pengakuan tersebut.

  • Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

Bersdasarkan Diagnosa and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) Obsesi pada penderita OCD digambarkan dengan pemikiran-pemikiran atau gambaran – gambara yang menggaggu, tidak diingikan dan terjadi terus menerus sehingga membentuk kecemasan, sehingga ingin untuk terlihat sempurna setiap saat di media sosial. Orang dengan gangguan ini akan sangat memerhatikan citra dirinya dan berusaha sangat keras agar tidak terlihat jelek di mata para pengguna media sosial lainnya.

  • Munchausen Syndrome

Mengikuti Diagnosa and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) Gangguan kejiwaan yang ditandai dengan pemalsuaan tanda – tanda fisik atau psikologi yang terkait penipuan, dimana penderitanya akan mengarang cerita apa pun hanya untuk mendapatkan perhatian di media sosial dan ia tidak peduli jika apa yang di posting di media sosial tersebut bukanlah merupakan suatu kebenaran, bahkan akan menjadi semakin tragis dan ekstrem dengan tujuan mendapatkan sebanyak mungkin follower atau orang yang bersimpati kepadanya.

  • Social Media Anxiety Disorder

Gangguan ini memiliki karakteristik yang kurang lebih sama dengan kecanduan. Para penderitanya merasa tidak bisa lepas dari media sosialnya. Sehingga mereka akan selalu mengecek media sosialnya kapan saja mereka beraktivitas dan di mana saja. Mereka juga akan merasa terganggu apabila jumlah follower atau jumlah orang yang berkomentar dan menyukai postingannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, sehingga lebih seperti terobsesi dengan media sosial.

  • Body Dysmorphic Disorder ( BDD )

Istilah BDD pertama kalinya dimunculkan oleh doketer asal Itali Enrico Moselli pada tahun 1891 adalah kondisi di mana penderitanya merasa takut atau tidak percaya diri pada tubuhnya sendiri disebabkan oleh media sosial yang terbuka untuk umum,dan kebebasn orang lain berkomentar pada postingan siapa saja, dan tidak hanya berupa komentar yang baik semakin membuat banyak orang yang merasa perlu menampilkan dirinya yang paling baik secara fisik untuk dilihat oleh orang lain.

  • Narcissistic Personality Disorder (NPD)

Sigmund Freud dalam tulisannya yang berjudul On Narcissism (1914) bahwa NPD sebutan untuk kondisi yang mengarah pada gagguan karakter individu yang menunjukan kesombongan, egoism dan kecintaan berlebihan pada diri sendiri, tidak punya empati dan tidak ingin mendengarkan orang lain serta tidak ingin semua perhatian lepas dari dirinya. Biasanya senang menyebarkan foto selfie, serta mengumbar kebahagiaan pribadinya. 

Penggunaan Media Sosial secara tidak tepat dan berlebihan dapat memberikan dampak negatitif baik fisik, psikologi dan sosial, Jika sudah berada dalam kondisi tersebut tidak menutup kemungkinan muncul masalah gangguan kejiwaan.  Maka mulai kini bijaklah dalam menggunakan media sosial.

Leave a Reply